Wednesday, March 24, 2010

Hai! hai untuk semua. salam hangat bagi semua yang tanpa sengaja, atau secara sengaja mampir melihat-melihat ke blog saya. saya mengucapkan, 

Selamat Datang dan Selamat Bosan. 

Sudah lama sekali saya tidak menulis. Biasanya saya menghabiskan banyak waktu untuk menulisnya di pikiran saya saja. Ketika ada niat untuk menuliskannya disini, ternyata kata telah termakan oleh lelap. Maklum, saya ini makhluk malam, jadi semua inspirasi hanya datang dikala badan tengah lelah dan manja minta digelut hangat dengan selimut asem dan lembut dari nenek saya yang masih cantik sampai sekarang.

ah, apalah bedanya. toh, saya juga membuat blog untuk mengkonsumsinya sendiri. sama halnya ketika saya belajar filsafat di universitas swasta sejak awal bulan ini. Tidak berekspetasi apa-apa. ibu saya bertanya apa manfaat yang bisa diambil dari kelas itu, saya menjawab, yah hanya untuk senang-senang sendiri saja. dan memang betul kelas yang saya ambil seminggu sekali itu telah menjadi bagian terbaik dalam menambah kegiatan saya.

sedikit bercerita tentang kegiatan saya akhir-akhir ini. telah terjadi dua prosesi, atau mungkin tiga prosesi. pertama, prosesi mati rasa kedua, adalah prosesi menyusun paragraf-paragraf kematian dan yang ketiga adalah prosesi ketika menuju kota senja. mungkin, penjelasan mengenai prosesi satu dan dua dapat saya jadikan menjadi satu prosesi saja. guna menghemat waktu penulisan, karena saat ini saya tengah menjalankan misi untuk menyelsaikan beberapa buku yang saya pinjam dari perpustakaan.

tulisan ini terputus, entah apa yang ingin saya tuliskan selanjutnya dan seketika itu juga saya benam dalam-dalam. lebih baik saya menyelsaikan banyak buku, mengetik hingga lemas, sedikit tidur, banyak-banyak mengkonsumsi makanan tanpa serat, dan menggigil terguyur hujan. selamat masuk angin dan selamat bosan wahai pengisi malam! 

Menangisi Ibu Pertiwi

Tuesday, February 2, 2010

Pagi ini seseorang telah berbaik hati mengantarkan sarapan dan meminjamkan sebuah buku pada saya, buku yang sudah saya cari-cari sedari kemarin untuk lekas saya pelajari. Tentu saja hal ini membuat saya sangat senang karena pagi ini saya bisa menyantap sarapan bubur fey favorit saya. Walaupun sebenernya saya tidak sempat mengucapkan terimakasih kepada orang yang telah mengirimkannya, karena setelah menaruh kiriman tersebut di meja depan kos-kosan, orang itu lekas pergi.

"Dear Miska.
Selamat pagi, ini aku bawakan sarapan kesukaanmu. mudah-mudahan kamu memakannya, itu saja harapanku. Saat ini sebenarnya bukan aku tidak perduli denganmu, melainkan aku tidak berani mengganggumu" 

Pesan yang ditinggalkannya di secarik kertas itu diselipkannya di dalam buku yang ia pinjamkan.

Dengan riang, saya lekas kembali ke kamar dan bersantai di depan komputer. Setelah perut sudah mulai keroncongan baru lah saya kemudian mengambil mangkuk kosong dan bungkusan bubur  lalu membawanya ke dapur untuk dihangatkan sebelum disantap. Sudah menjadi kebiasaan saya sedari dulu terbiasa menikmati makanan sambil menonton DVD. Ah, tapi hari ini saya malas sekali untuk mengambil CD DVD yang telah saya simpan rapih di suatu tempat khusus, malas lagi untuk merapihkannya kembali. Yasudah, sakhirnya saya memutuskan untuk menyalakan TV. Seperti biasa, pagi menjelang siang acara TV diisi oleh berita-berita seputar selebritis tanah air dan tepat tengah hari kemudian dilanjutkan dengan berita siang di beberapa channel. Ah, sudahlah, tidak ada pilihan lain, pikirku. 

Si Bilqis hendak di operasi, hasil kerja PANSUS, demo PNS dan lberita lainnya saya tonton seraya menikmati bubur kesukaan sampai habis tidak bersisa. Kemudian , saya keluar kamar dan mencuci piring seperti biasa. Setelah beres, saya pun kemabali ke kamar, melanjutkan berita siang.
Gaji pejabat tanah air dinaikkan, tinggal menunggu keputusan presiden. Kebijakan ini dilakukan guna mengurangi korupsi dan bla-bla-bla. (sudah tak sanggup lagi saya rasanya mendengar semua alasan kebijakan dari neraka itu).


*blah


Serasa habis sudah energi yang sudah saya keluarkan selama ini, untuk menyumpah, mengutuk, mengeluarkan kata-kata kasar dan masih banyak lagi yang diperuntukkan bagi mereka yang mungkin pantas mendapatkannya, dan saya dengan tegas mengacungkan jari tengah untuk mereka yang tetap baik-baik saja mengendarai mobil mewahnya. 







Oh, Ibu pertiwi jangan menangis. Sudahlah biarkan air mataku yang menggantikan dukamu.
Kalau begini, pindah ke bulan sepertinya akan jauh lebih baik.


Nb: oia, ini sekilas saja tentang gambaran bubur favorit saya, loh. Hampir saja lupa :)




My Elephant Man

 

kasian kamu, tersingkir oleh template baru ku. 
Jangan sedih begitu, dong elephant man. Malam ini, kuberi kamu post khusus.
Yuk, dengarkan iTouch nya lagi. 
 

Love Sick

 



lovelovesick. 
<3

Wedding Song

Monday, February 1, 2010

 

Kata-kata yang tertulis di tembok kamar tidur pasangan ini adalah rangkaian kata yang dipersembahkan seorang pria untuk istrinya di hari pernikahan mereka, yang dikemas dalam sebuah lagu. 
Kemudian, si pria menuliskannya lagi di kamar tidur mereka. 

*aw, i assume you want one.  :p

xx

Terang itu selalu dicari.

Saturday, January 30, 2010


Pahamilah kegelapan anda, maka kegelapan itu akan sirna dan anda akan mengenali cahaya. Pahamilah mimpi buruk anda, pahamilah keberadaannya, maka mimpi itu akan berakhir dan anda menjadi sadar akan realitas. Pahamilah keyakinan2 palsu anda, maka keyakinan2 palsu itu akan lenyap dan anda akan tahu cita rasa kebahagiaan.


Jagat gedhe-jagat alit, makrokosmos-mikrokosmos mempermudah kita membayangkan betapa sederhananya sekaligus betapa rumitnya tatanan semesta ini. Sejauh mata memandang, sejauh kaki berkelana, seluas pikiran mengawang tetaplah batas itu tak jelas kecuali darimana kita berpijak.


Love everything
then you will enjoy everything,
you will need nothing,
you will fear nothing.

Akhirnya, kita tak kenal lelah untuk bahagia.


(Sekejap Inspiratif: http://www.facebook.com/ignatius.yunanto)

Jika ragu. Ya, jangan lakukan!

Friday, January 29, 2010

"Seberapa lama kah waktu yang telah kita habiskan? iya, saya bertanya kepada kamu. iyaa, kamu yang sedari tadi berdiri tepat di hadapan saya! "

Tidak perlu mendera untuk sekadar memastikan benar adanya kehadiranmu selama ini. Ya, kamu nyata di hadapanku.

Sudah berapa kali kukatakan padamu, suara itu adalah dirimu yang terkubur dalam sebuah kotak emas jauh-jauh di dalam.

Ah, dan sudah kukatakan juga, kamu lah yang pegang kuncinya. Iya-iya kamu kuncinya, sayang.

Kini semua nya telah berbeda halaman, tidak perlu ada beban, tidak perlu ada tanggung jawab. Dan iya, saya mulai membenci kata-kata itu. Lantas, jika setiap nafas ternyata bertanggung jawab atas nafas-nafas lainnya, apakah kemudian kita semua tak akan lagi merasa kesepian?

Benarkah??

............

Baik-baik, mari kita sama-sama mengulang.

Dari awal sekali aku sudah ragu. mereka bilang, jangan.
Hei, suara itu juga bilang, jangan.
Ah, kamu sendiri yang berbisik di telingaku. "Jika kamu ragu, sayang. jangan dilakukan".

Ah, sayang. sayang sekali aku sudah terlanjur melompat. Dan kini, aku terjerembab.

Apakah kamu pernah sekali saja mendengar suara itu?