Menangisi Ibu Pertiwi

Tuesday, February 2, 2010

Pagi ini seseorang telah berbaik hati mengantarkan sarapan dan meminjamkan sebuah buku pada saya, buku yang sudah saya cari-cari sedari kemarin untuk lekas saya pelajari. Tentu saja hal ini membuat saya sangat senang karena pagi ini saya bisa menyantap sarapan bubur fey favorit saya. Walaupun sebenernya saya tidak sempat mengucapkan terimakasih kepada orang yang telah mengirimkannya, karena setelah menaruh kiriman tersebut di meja depan kos-kosan, orang itu lekas pergi.

"Dear Miska.
Selamat pagi, ini aku bawakan sarapan kesukaanmu. mudah-mudahan kamu memakannya, itu saja harapanku. Saat ini sebenarnya bukan aku tidak perduli denganmu, melainkan aku tidak berani mengganggumu" 

Pesan yang ditinggalkannya di secarik kertas itu diselipkannya di dalam buku yang ia pinjamkan.

Dengan riang, saya lekas kembali ke kamar dan bersantai di depan komputer. Setelah perut sudah mulai keroncongan baru lah saya kemudian mengambil mangkuk kosong dan bungkusan bubur  lalu membawanya ke dapur untuk dihangatkan sebelum disantap. Sudah menjadi kebiasaan saya sedari dulu terbiasa menikmati makanan sambil menonton DVD. Ah, tapi hari ini saya malas sekali untuk mengambil CD DVD yang telah saya simpan rapih di suatu tempat khusus, malas lagi untuk merapihkannya kembali. Yasudah, sakhirnya saya memutuskan untuk menyalakan TV. Seperti biasa, pagi menjelang siang acara TV diisi oleh berita-berita seputar selebritis tanah air dan tepat tengah hari kemudian dilanjutkan dengan berita siang di beberapa channel. Ah, sudahlah, tidak ada pilihan lain, pikirku. 

Si Bilqis hendak di operasi, hasil kerja PANSUS, demo PNS dan lberita lainnya saya tonton seraya menikmati bubur kesukaan sampai habis tidak bersisa. Kemudian , saya keluar kamar dan mencuci piring seperti biasa. Setelah beres, saya pun kemabali ke kamar, melanjutkan berita siang.
Gaji pejabat tanah air dinaikkan, tinggal menunggu keputusan presiden. Kebijakan ini dilakukan guna mengurangi korupsi dan bla-bla-bla. (sudah tak sanggup lagi saya rasanya mendengar semua alasan kebijakan dari neraka itu).


*blah


Serasa habis sudah energi yang sudah saya keluarkan selama ini, untuk menyumpah, mengutuk, mengeluarkan kata-kata kasar dan masih banyak lagi yang diperuntukkan bagi mereka yang mungkin pantas mendapatkannya, dan saya dengan tegas mengacungkan jari tengah untuk mereka yang tetap baik-baik saja mengendarai mobil mewahnya. 







Oh, Ibu pertiwi jangan menangis. Sudahlah biarkan air mataku yang menggantikan dukamu.
Kalau begini, pindah ke bulan sepertinya akan jauh lebih baik.


Nb: oia, ini sekilas saja tentang gambaran bubur favorit saya, loh. Hampir saja lupa :)




0 comments: