Malam ini aku mendadak tersentak. Kusebut nama Tuhan, lalu bergegas kuambil telepon genggam yang terletak di atas kasur, di sebelahku. Kucari nomor teleponnya, lalu segera kutekan tombol berwarna hijau di telepon genggamku itu. Kemudian di seberang sana menjawab dengan salam, yang kubalas dengan salam lagi. Rindunya! Suaranya di telepon khas sekali. Jauh lebih menyenangkan daripada suara aslinya.
Kutanya, "Hallo, kamu lagi ngapain?"
Jawabannya tetap sama dengan setiap kali kutelepon dirinya, "Lagi nonton. Hihihi!"
"Nonton apa?" kutanya lagi. Lalu ia menyebutkan nama sebuah acara yang menggunakan bahasa Inggris, walaupun dengan kurang jelas aku dapat menangkapnya. Dugaanku, sudah pasti dari Disney Channel, Nickelodeon, atau Cartoon Network dan sejenisnya.
Kuteruskan percakapanku dengannya. Kutanya mengenai sekolah. Kuceritakan kepadanya tentang keadaan Kakek yang sedang menjalani operasi ringan. Juga kuingatkan pada dirinya untuk ikut berdo'a. Kemudian percakapan kami sampai ke topik yang sering ia tanyakan kepadaku.
"So, who's the one is the right one?"
Aku jawab, "No one."
Ia tanya lagi, "Well, which one is closer to your type?" Aku jawab dengan seseorang yang ia kenal.
Ia menyetujuinya. Kali ini ia menjawab lagi dengan nada menasehati, "Pokoknya, Sis! Kamu harus cari cowo yang smart, nice, rich...Emmm, tapi ga musti rich-rich banget sih. Handsome, brave, and strong."
Aku mulai bingung dengan pernyataannya. Kutanya lagi, "Strong seperti apa?"
"Iya, strong gitu loh!" itu jawabannya.
Lalu ia menjabarkan kelebihan pasangan-pasanganku sebelumnya yang ia kenal. Itulah kelebihannya. Ia selalu mampu melihat hal-hal baik orang-orang di sekitarnya. Hanya hal baik yang ia utarakan. Kucatat pembicaraannya tentang tipe tadi di telepon genggamku. Nanti aku akan bilang kepada Ayah dan Ibuku. Juga kutulis di blog ini.
Semakin kusadari setiap harinya. Ia yang semakin besar dan bahkan hari ini pun sudah memiliki tipe pria. Lainnya ia bisa memberikan saran dan kritik kepadaku. Semakin kusadari juga petualanganku dengannya yang baru merangkak. Hari ini aku tersentak kaget karena sudah lebih dari dua minggu tidak menghubunginya. Karena aktivitasku yang padat dan sampai melupakannya.
Kukatakan padanya bahwa aku lupa. Ia hanya tertawa. Pelipur laraku. Sahabatku. Gulingku. Cinta pertamaku sejak sembilan tahun yang lalu. Sekarang pukul sebelas malam, pasti ia sudah tidur sejak jam sembilan malam tadi. Tidur yang nyenyak, adikku sayang, Alya Gentiana. Ceriaku sampai empat belas tahun kedepan.
Kutanya, "Hallo, kamu lagi ngapain?"
Jawabannya tetap sama dengan setiap kali kutelepon dirinya, "Lagi nonton. Hihihi!"
"Nonton apa?" kutanya lagi. Lalu ia menyebutkan nama sebuah acara yang menggunakan bahasa Inggris, walaupun dengan kurang jelas aku dapat menangkapnya. Dugaanku, sudah pasti dari Disney Channel, Nickelodeon, atau Cartoon Network dan sejenisnya.
Kuteruskan percakapanku dengannya. Kutanya mengenai sekolah. Kuceritakan kepadanya tentang keadaan Kakek yang sedang menjalani operasi ringan. Juga kuingatkan pada dirinya untuk ikut berdo'a. Kemudian percakapan kami sampai ke topik yang sering ia tanyakan kepadaku.
"So, who's the one is the right one?"
Aku jawab, "No one."
Ia tanya lagi, "Well, which one is closer to your type?" Aku jawab dengan seseorang yang ia kenal.
Ia menyetujuinya. Kali ini ia menjawab lagi dengan nada menasehati, "Pokoknya, Sis! Kamu harus cari cowo yang smart, nice, rich...Emmm, tapi ga musti rich-rich banget sih. Handsome, brave, and strong."
Aku mulai bingung dengan pernyataannya. Kutanya lagi, "Strong seperti apa?"
"Iya, strong gitu loh!" itu jawabannya.
Lalu ia menjabarkan kelebihan pasangan-pasanganku sebelumnya yang ia kenal. Itulah kelebihannya. Ia selalu mampu melihat hal-hal baik orang-orang di sekitarnya. Hanya hal baik yang ia utarakan. Kucatat pembicaraannya tentang tipe tadi di telepon genggamku. Nanti aku akan bilang kepada Ayah dan Ibuku. Juga kutulis di blog ini.
Semakin kusadari setiap harinya. Ia yang semakin besar dan bahkan hari ini pun sudah memiliki tipe pria. Lainnya ia bisa memberikan saran dan kritik kepadaku. Semakin kusadari juga petualanganku dengannya yang baru merangkak. Hari ini aku tersentak kaget karena sudah lebih dari dua minggu tidak menghubunginya. Karena aktivitasku yang padat dan sampai melupakannya.
Kukatakan padanya bahwa aku lupa. Ia hanya tertawa. Pelipur laraku. Sahabatku. Gulingku. Cinta pertamaku sejak sembilan tahun yang lalu. Sekarang pukul sebelas malam, pasti ia sudah tidur sejak jam sembilan malam tadi. Tidur yang nyenyak, adikku sayang, Alya Gentiana. Ceriaku sampai empat belas tahun kedepan.

0 comments:
Post a Comment