Sudah dua malam aku enggan bergegas untuk tidur. Padahal,waktu sudah lewat tengah malam. Punggung ini juga mulai letih. Tetapi, tetap saja pikiran berkecamuk minta diperhatikan.
Kertas-kertas pekerjaan rumah untuk lusa masih berserakan di kasur. Tercekik dengan waktu, hanya tetap saja ketertarikanku bukan di kertas itu.
Nyaris tidak sadar, nyaris tidak tahu titik dan koma, nyaris tidak tahu apa-apa, nyaris tidak bisa apa-apa.
Perlahan risau ini menyayat kian perih.
Dingin merasuk dan membuatku merinding ketakutan. Tetapi setelah itu, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
Ku mencari di setiap liuk yang kupunya, di kotak yang biasa kusimpan rapih mengenai tiap angan yang berusaha kuciptakan sendiri.
Sial!
Tetap saja aku ini tidak bisa apa-apa.
Sial!
Tetap saja aku ini tidak bisa apa-apa.
Aku marah. ya, aku marah! Marah kepada diri sendiri berusaha menampik bahwa aku juga menyalahkan yang lain, material lain dalam tetek bengek hidup.
Lalu-lalu apakah ada hasil?
Lalu-lalu apakah ada hasil?
Tentu saja, tidak!
Winampku masih memainkan lagu jazz yang tidak jua kukenal siapa yang menyanyikannya, dan tidak penting untukku untuk tahu. Karena, aku juga tidak dapat menikmatinya malam ini. Jadi, sudah sejak setengah jam yang lalu kukecilkan suaranya. Sehingga, yang terdengar hanya samar-samar dentingan piano.
Di sampingku ku pajang foto keluargaku, ketika mereka semua sedang berkumpul untuk makan malam bersama, yang dimana aku tidak turut serta waktu itu.
Inilah yang membuat pikiranku makin berkecamuk, ingin rasanya memberi kesenangan pada semuanya.
Tapi sialnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Inilah yang membuat pikiranku makin berkecamuk, ingin rasanya memberi kesenangan pada semuanya.
Tapi sialnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Sejak lama sudah aku melayang dalam kekosongan. Tidak meminta, tidak memberi, tidak mau apa-apa.
Apakah ini? Apakah setelah ia ciptakan diriku, kemudian ia meninggalkanku?
Aku juga lalu tidak sedih, maupun senang. Semuanya jadi seperti ruangan yang penuh sesak sekaligus hampa bagiku.
Apakah ini? Apakah setelah ia ciptakan diriku, kemudian ia meninggalkanku?
Aku juga lalu tidak sedih, maupun senang. Semuanya jadi seperti ruangan yang penuh sesak sekaligus hampa bagiku.
Hari di malam-malam sebelumnya kian semu, ketika akhirnya kini menjadi kian pekat di benakku.
Kutanyakan berulang kali pada diriku, pada setiap celah yang mungkin bisa menjadi jalan keluar. Kupukul-pukul dadaku.
Aaargh! tenggelamkah aku untuk selamanya?
Apakah aku juga menjadi kian redup?
Kutanyakan berulang kali pada diriku, pada setiap celah yang mungkin bisa menjadi jalan keluar. Kupukul-pukul dadaku.
Aaargh! tenggelamkah aku untuk selamanya?
Apakah aku juga menjadi kian redup?
Kian kelabu di setiap warna dunia?
Ketika setiap nyawa menjadi kian nyata dan aku kian hilang.
Ketika setiap nyawa punya tangan dewa, aku tetap tidak punya apa-apa.
Ketika setiap nyawa punya tangan dewa, aku tetap tidak punya apa-apa.
Ah, dasar! malam-malam sial.
Seprai pink ku ini membuatku semakin panas hati.
Buat sajalah aku mati.
Buat sajalah aku mati.
Biar henti sudah tubuh yang sesak akan jeritan ini.

0 comments:
Post a Comment