Moi et toi

Friday, March 20, 2009

Serupa cuaca, aku mencintaimu, selalu terikat waktu.
Serupa udara, aku menyayangimu, selalu terikat ruang.
Serupa hujan, aku membencimu sewaktu-waktu....

Lost in the Lilacs

Sudah dua malam aku enggan bergegas untuk tidur. Padahal,waktu sudah lewat tengah malam. Punggung ini juga mulai letih. Tetapi, tetap saja pikiran berkecamuk minta diperhatikan. 
Kertas-kertas pekerjaan rumah untuk lusa masih berserakan di kasur. Tercekik dengan waktu, hanya tetap saja ketertarikanku bukan di kertas itu.
Nyaris tidak sadar, nyaris tidak tahu titik dan koma, nyaris tidak tahu apa-apa, nyaris tidak bisa apa-apa.
Perlahan risau ini menyayat kian perih. 
Dingin merasuk dan membuatku merinding ketakutan. Tetapi setelah itu, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
Ku mencari di setiap liuk yang kupunya, di kotak yang biasa kusimpan rapih mengenai tiap angan yang berusaha kuciptakan sendiri. 

Sial! 
Tetap saja aku ini tidak bisa apa-apa.
Aku marah. ya, aku marah! Marah kepada diri sendiri berusaha menampik bahwa aku juga menyalahkan yang lain, material lain dalam tetek bengek hidup.

Lalu-lalu apakah ada hasil?
Tentu saja, tidak!
Winampku masih memainkan lagu jazz yang tidak jua kukenal siapa yang menyanyikannya, dan tidak penting untukku untuk tahu. Karena, aku juga tidak dapat menikmatinya malam ini. Jadi, sudah sejak setengah jam yang lalu kukecilkan suaranya. Sehingga, yang terdengar hanya samar-samar dentingan piano.
Di sampingku ku pajang foto keluargaku, ketika mereka semua sedang berkumpul untuk makan malam bersama, yang dimana aku tidak turut serta waktu itu. 
Inilah yang membuat pikiranku makin berkecamuk, ingin rasanya memberi kesenangan pada semuanya. 
Tapi sialnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Sejak lama sudah aku melayang dalam kekosongan. Tidak meminta, tidak memberi, tidak mau apa-apa. 
Apakah ini? Apakah setelah ia ciptakan diriku, kemudian ia meninggalkanku? 

Aku juga lalu tidak sedih, maupun senang. Semuanya jadi seperti ruangan yang penuh sesak sekaligus hampa bagiku. 
Hari di malam-malam sebelumnya kian semu, ketika akhirnya kini menjadi kian pekat di benakku. 

Kutanyakan berulang kali pada diriku, pada setiap celah yang mungkin bisa menjadi jalan keluar. Kupukul-pukul dadaku. 

Aaargh! tenggelamkah aku untuk selamanya? 

Apakah aku juga menjadi kian redup?
Kian kelabu di setiap warna dunia?
Ketika setiap nyawa menjadi kian nyata dan aku kian hilang. 
Ketika setiap nyawa punya tangan dewa, aku tetap tidak punya apa-apa.

Ah, dasar! malam-malam sial. 
Seprai pink ku ini membuatku semakin panas hati. 
Buat sajalah aku mati.
Biar henti sudah tubuh yang sesak akan jeritan ini.

Empat belas tahun kedepan

Friday, December 19, 2008

Malam ini aku mendadak tersentak. Kusebut nama Tuhan, lalu bergegas kuambil telepon genggam yang terletak di atas kasur, di sebelahku. Kucari nomor teleponnya, lalu segera kutekan tombol berwarna hijau di telepon genggamku itu. Kemudian di seberang sana menjawab dengan salam, yang kubalas dengan salam lagi. Rindunya! Suaranya di telepon khas sekali. Jauh lebih menyenangkan daripada suara aslinya.

Kutanya, "Hallo, kamu lagi ngapain?"

Jawabannya tetap sama dengan setiap kali kutelepon dirinya, "Lagi nonton. Hihihi!"

"Nonton apa?" kutanya lagi. Lalu ia menyebutkan nama sebuah acara yang menggunakan bahasa Inggris, walaupun dengan kurang jelas aku dapat menangkapnya. Dugaanku, sudah pasti dari Disney Channel, Nickelodeon, atau Cartoon Network dan sejenisnya.

Kuteruskan percakapanku dengannya. Kutanya mengenai sekolah. Kuceritakan kepadanya tentang keadaan Kakek yang sedang menjalani operasi ringan. Juga kuingatkan pada dirinya untuk ikut berdo'a. Kemudian percakapan kami sampai ke topik yang sering ia tanyakan kepadaku.

"So, who's the one is the right one?"

Aku jawab, "No one."

Ia tanya lagi, "Well, which one is closer to your type?" Aku jawab dengan seseorang yang ia kenal.

Ia menyetujuinya. Kali ini ia menjawab lagi dengan nada menasehati, "Pokoknya, Sis! Kamu harus cari cowo yang smart, nice, rich...Emmm, tapi ga musti rich-rich banget sih. Handsome, brave, and strong."

Aku mulai bingung dengan pernyataannya. Kutanya lagi, "Strong seperti apa?"

"Iya, strong gitu loh!" itu jawabannya.

Lalu ia menjabarkan kelebihan pasangan-pasanganku sebelumnya yang ia kenal. Itulah kelebihannya. Ia selalu mampu melihat hal-hal baik orang-orang di sekitarnya. Hanya hal baik yang ia utarakan. Kucatat pembicaraannya tentang tipe tadi di telepon genggamku. Nanti aku akan bilang kepada Ayah dan Ibuku. Juga kutulis di blog ini.

Semakin kusadari setiap harinya. Ia yang semakin besar dan bahkan hari ini pun sudah memiliki tipe pria. Lainnya ia bisa memberikan saran dan kritik kepadaku. Semakin kusadari juga petualanganku dengannya yang baru merangkak. Hari ini aku tersentak kaget karena sudah lebih dari dua minggu tidak menghubunginya. Karena aktivitasku yang padat dan sampai melupakannya.

Kukatakan padanya bahwa aku lupa. Ia hanya tertawa. Pelipur laraku. Sahabatku. Gulingku. Cinta pertamaku sejak sembilan tahun yang lalu. Sekarang pukul sebelas malam, pasti ia sudah tidur sejak jam sembilan malam tadi. Tidur yang nyenyak, adikku sayang, Alya Gentiana. Ceriaku sampai empat belas tahun kedepan.

Mengetik berulang-ulang

Pertama, bilang ini salah saya. Karena saya lupa password untuk blog yang pertama kali saya buat. 
Kedua, bilang ini salah saya. Karena saya terlalu gaptek sampai-sampai bikin blog saja bingung.
Jadilah saya mengetik berulang-ulang sejak sejam yang lalu.
Tapi, saya akhirnya berhasil juga membuat my brand new blog ini, published. hihi. Happy-happy 2000.

Saya tidak punya pengharapan dan motivasi apa-apa memiliki blog, tapi saya mau nulis.
Kemarin, dosen saya dikampus bilang di depan kelas
"generasi kita di Indonesia ini, membaca saja payah, apalagi menulis!" 
Hai-hai, pak dosen! Enak, saja! Generasi situ kali, jangan kemudian bawa-bawa saya di dalamnya dong, wong saya sudah punya blog kok! hehe.

Semoga bisa bersenang-senang di dalamnya.